Pencukil: Mayong S. Laksono
Hope Donahue mungkin memiliki semua yang diimpikan perempuan: cantik, berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga kaya. Namun, ia justru merasa sebaliknya. Tersiksa oleh kesepian karena tak percaya diri dalam berteman. Juga merasa selalu punya kekurangan, termasuk diri yang kurang cantik. Masa remaja hingga dewasanya dihabiskan untuk mengejar obsesi cantik dengan serangkaian operasi plastik. Alis, pelipis, hidung, payudara, bibir, tulang pipi, payudara lagi, bibir lagi. Semua itu dia lakukan karena didorong oleh keinginan, kecemasan, sekaligus ketidakpedulian. Dalam buku Beautiful Stranger yang kami nukil ini (versi bahasa Indonesianya diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 2005), ia mengungkapkan semuanya.
Ini yang perlu engkau ketahui.
Namaku Hope. Aku lahir pada tahun 1968, tumbuh di sebuah perumahan kecil Los Angeles yang disebut Hancock Park. Daerah itu terkenal karena rumah-rumah megahnya dan keluarga kaya turun-temurun. Aku anak tunggal. Ayahku seorang bankir, kakekku dokter dengan reputasi internasional. Ibuku tinggal di rumah untuk membesarkan aku, seperti halnya para ibu lainnya. Aku masuk ke sekolah swasta terbaik, sampai tamat S2 bidang jurnalisme di University of California, Berkeley. Aku tidak perlu melamar untuk mendapatkan beasiswa, atau menabung untuk membeli mobil baru, karena aku bisa mendapatkan itu semua dengan cuma-cuma.
Ketika beranjak dewasa, tinggiku sekitar 170 cm, dengan mata hijau dan rambut pirang tertata rapi seperti model. Orang bilang aku cantik.
WAJAH ASING YANG EKSOTIS
- Dari tiga operasi plastik yang telah aku jalani, dr. S merupakan orang pertama yang tidak mengernyitkan alis saat menyadari umurku pada catatan medis.
Tidak ada keinginanku yang dia anggap berlebihan. Aku merasa tenang dalam penanganannya. Namun, justru itu yang membuatku takut karena tak ada yang bisa mencegah operasi apa lagi yang akan aku jalani. Aku bisa lepas kendali.
Di suatu pagi di kliniknya, dokter ganteng berusia 45 tahun itu memeriksa benjolan pada bibir bawahku. Itu "hasil karya" dr. R, berupa bahan Gore-Tex - materi sintetis yang biasa digunakan sebagai bahan pelapis jaket - yang dimasukkan ke bibirku. Alih-alih jadi "penuh" dan seksi, bibirku malah benjol. Sulit dijelaskan kenapa aku tidak kembali kepada dr. R. Lebih mudah dipahami kenapa aku memilih dr. S untuk memperbaiki bibir ini.
"Sebelum kita mulai, ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan kepadamu, Hope. Ayo masuk," ajak dr. S dalam baju operasi warna putih. Ia mengenalkan aku kepada Alix, perempuan berambut hitam, bermata tajam, berusia 40 tahun, yang menyambutku dengan senyum di atas meja operasi.
"Alix baru saja menjalani apa yang aku sebut lunchtime lift - pengangkatan sekejap mata. Ini prosedur revolusioner. Memberikan efek pengangkatan alis tanpa waktu penyesuaian sedikit pun." Dr. S menunjukkan gurat hitam bekas jahitan di balik rambut pada pelipis Alix. Kemudian ia mengelus dahi Alix, si pasien membalas dengan senyuman. Tatapan intim itu membuat kerongkonganku melonjak dengan rasa cemburu.
"Coba, lihat dia. Bukankah dia cantik? Dia terlihat seperti berusia 25 tahun," dr. S mencoba meyakinkanku.
Senyumku, secara otomatis, menyembunyikan kebingungan yang sedang kurasakan. Aku sendiri baru 23 tahun!
"Kau juga bisa diuntungkan oleh operasi ini, Hope," pandangannya memancarkan kehangatan di ruang operasi yang dingin dan steril. "Ini akan memberimu wajah asing yang eksotis."
Eksotis. Asing. Janji itu terasa menarik. Bagaimana aku bisa menolak tawaran menggiurkan untuk menjadi seseorang selain diriku? Apakah dr. S tahu bahwa, seandainya bisa, aku akan meninggalkan seluruh diri ini di atas meja operasinya seperti seekor ular yang berganti kulit untuk menjadi orang asing yang cantik - a beautiful stranger?
Aku membiarkan dr. S menuntunku ke depan cermin, dan dari belakang menarik kulit pelipisku ke belakang dan ke atas dengan jarinya. Mata hijauku mirip mata bintang film Italia.
"Kalau kau melakukannya hari ini," ujar dr. S lembut, "pada saat yang sama dengan bibirmu, aku menarik bayaran seribu saja. Biasanya aku menghargainya seribu enam ratus. Aku selalu memberi diskon untuk beberapa prosedur sekaligus."
Hening. Apakah kepasifan ini harus disalahkan karena aku tak mampu menolak? Aku tidak bisa berpikir panjang lagi, sebab risiko tampaknya besar sekali: risiko kehilangan dukungan dr. S, mendekam selamanya dalam bayangan gadis yang biasa-biasa saja.
"Tidak!" jeritku.
"Apa?" mata cokelat dr. S dipenuhi kekagetan.
"Maksudku, ya! Maaf. Maksudku, ya. Ayo kita lakukan."
WANITA CANTIK ITU GILA?
- Saat umurku hampir 13 tahun, masih punya delapan gigi susu karenanya belum mengalami menstruasi, kami pindah ke Hongkong.
Ayahku, Clayton Hathaway, harus "mengurus sesuatu" di perwakilan banknya di sana selama satu tahun. Ibuku, Virginia, "protes" dengan menenggak satu setengah botol pil tidur dicampur Jack Daniel’s. Namun, akhirnya ia ikut juga karena siap menghabiskan waktu setiap hari dengan tidak berbuat apa-apa.
Kami tinggal di Hilton selama tiga minggu selagi apartemen disiapkan. Setiap hari ibu mengajakku menjelajahi kota berdasarkan buku panduan. Kami menyusuri lorong-lorong sumpek dan bau keringat bercampur masakan ikan. Banyak toko menjajakan guci naga, patung, tas-tas palsu merek terkenal, sampai pakaian dalam wanita. Di sebuah kuil Buddha kami dikerumuni pengemis, kami memberikan uang logam tanpa menyentuh tangan mereka.
Ibu selalu mengingatkan agar sepulang dari bepergian, aku langsung mandi dan memasukkan baju kotor ke keranjang cucian. Ibu sendiri mandi empat-lima kali sehari. Alasannya, itulah satu-satunya cara membersihkan diri dari udara Hongkong yang lembap. Ibu tidak ingin sekali pun meneteskan keringat di hawa yang panas. Sebuah kesia-siaan.
Apartemen kami, lantai 16 sebuah bangunan yang disebut Twin Brook, menghadap Repulse Bay yang oleh ibu disebut Repulsive Bay (teluk yang menjijikkan). Aku masuk ke sekolah multibangsa. Bergaul dengan sesama anak ekspatriat sedikit mengalihkanku dari "acara harian", yaitu pertengkaran ayah-ibu. Ayahku bekerja sampai larut malam karena, katanya, itulah yang dilakukan semua bankir. Ibuku bilang, itu hanya cara untuk menghindari kami.
Di sekolah aku mendengar cerita tentang anak-anak ekspatriat yang terjangkit "Demam Pulau" - istilah sopan untuk menunjuk orang yang putus asa di Hongkong. Ada anak laki-laki Amerika yang meloncat dari balkon apartemen tapi tersangkut tiang bendera. Ada gadis Swis yang mencukur rambut dan alisnya, dan suatu malam diperkosa di salah satu bar di Wan Chai.
Mungkin untuk mengurangi kesepian, ibu rajin menceritakan hampir semua hal dan hubungan dengan teman-temannya, termasuk gosip dan cerita jorok. Sepertinya, ibu menganggap aku teman sebaya. Ibu sering berteriak-teriak, marah tanpa sebab, namun ketika bergairah, menari-nari memamerkan gaun baru yang akan dia pakai ke sebuah pesta. Ibu pernah mendamprat ayah gara-gara ayah terlalu memperhatikanku saat aku berenang. Logika dari mana dia menganggap anak kandung bisa menjadi pangkal rasa cemburu?
Namun, aku tak mempersoalkan. Ibuku sedikit gila, tidak apa-apa. Bukankah kebanyakan wanita cantik itu gila? Di televisi, wanita cantik yang gila selalu lolos dari dakwaan. Di novel, klasik kecantikan dan kegilaan selalu beriringan. Dalam film, tokoh wanita yang menabrakkan diri ke kereta api yang sedang melaju selalu cantik. Selain sering menelan pil tidur, ibuku merokok, minum, dan berjemur sampai kulitnya terbakar. Saat ayah mengeluhkan besarnya tagihan air, ibu bilang, "Sehari mandi lima puluh kali pun aku jalani kalau aku memang menginginkannya."
Sampai kami kembali ke California
GANTI PACAR SEPERTI MEMILIH BAJU
- Ibu tak pernah setuju aku menjalani operasi plastik. Ia menyebutnya "penghancuran diri", dan mengusirku setelah aku menjalani operasi keempat.
Ayah, meski tak jelas setuju atau tidak, tetap membayar tagihan kartu kreditku.
Aku pindah ke apartemen empat kamar di sebuah rumah tua di King’s Road. Ada tiga perempuan temanku: Hillary, asisten di sebuah perusahaan rekaman; Karen, akuntan yang sombong; dan Anita, mahasiswi University of California Los Angeles.
Aku sadar, sudah lama aku lebih tertarik pada penampilan ketimbang pada kuliah. Aku tak pernah pergi tanpa riasan, meski ada perbedaan besar antara mahasiswa USC dengan Berkeley. Di USC penampilan lebih penting, sementara di Berkeley orang dinilai dari kecerdasannya. Di Berkeley aku dikelilingi mahasiswa bersemangat tinggi seperti yang selalu pura-pura aku tunjukkan.
Saat memakai riasan wajah, rasanya aku memoleskannya juga ke seluruh badan untuk menutupi kekurangan. Ketika membedaki lingkaran hitam di bawah mata, sebenarnya aku menyembunyikan rasa cemas dan tidak percaya diri. Saat menebalkan lipstik, sesungguhnya aku sedang melukis seorang gadis yang ceria, bersemangat, dan percaya diri.
Tahun-tahun pertama di Berkeley aku hampir gagal total. Seorang wanita dosen pembimbing menasihati, sebaiknya aku melupakan pemikiran bahwa aku akan berhasil hanya dengan mengandalkan wajahku. Tentu saja itu hal yang kuharapkan. Bukan karena aku malas atau bodoh, tetapi karena aku yakin bahwa modal yang kumiliki hanyalah penampilanku ini. Sementara itu aku harus sering tugas ke luar, menemui orang. Oh, sungguh menyiksa. Aku terperosok pada rasa malu berkepanjangan.
Untuk menutupi kekurangan di kelas, aku memulai serangkaian kemenangan romantis kecil yang sungguh brutal. Aku selalu tampil genit di depan pacar-pacarku. Aku memulai dan memutuskan hubungan seperti memilih baju di toko. Kecuali dengan Hart, pacarku sejak di USC yang kemudian menjadi guru di Jepang, semua hubunganku hanya berlangsung beberapa bulan. Sedangkan Craig penurut dan menerima apa pun perlakuanku. Semakin ia pasrah, aku semakin jahat dan egois kepadanya. Aku bangga dengan reputasiku sebagai Lothario perempuan: bosan dengan pria sebelum mereka bosan pada diriku.
Suatu saat Hart mengundangku liburan Natal di Jepang. Karena ia pernah menyimpulkan bahwa kami berdua sama-sama berhidung besar, aku berniat mengubah hal itu sebelum ketemu dia. Pada 2 Desember aku meminta dokter William D. untuk mengoperasi hidungku. Rinoplasti berbiaya AS $ 1.800 itu ternyata perlu waktu lebih lama untuk pulih. Aku menahan rasa sakit di tengah cuaca dingin akhir tahun di Jepang. Sekali darah menetes ke dada Hart saat kami berhubungan intim. Ia tak paham sebabnya karena aku tidak cerita. Ia justru bilang, hidungku makin besar saja. Hidungku memang masih bengkak.
INGIN MENJADI BOMB SEX
- Akhirnya, kuliah jurnalisme di Berkeley selesai juga. Aku kembali ke lingkungan lama, ibu dan teman-temannya. Dengan dua kartu kredit yang cicilannya selalu dibayar oleh ayah, aku makin leluasa membayar untuk sesuatu yang membuatku lebih cantik.
Aku kadang heran, ternyata sesekali bisa juga sendirian di toko atau pusat keramaian. Juga ke sebuah pesta, meski itu karena ajakan Anita yang terus mendesakku. Di pesta itu aku bertemu Hank, lelaki kekar 35 tahun yang bangga akan beberapa film yang dilibatinya, namun judulnya tak pernah kudengar.
Di pesta ia sempat mencumbuku meski ketika sadar segera menarik tangannya dari dadaku. Entahlah, itu terjadi karena beberapa gelas Chardonnay yang kuminum atau aku memang senang menjadi pihak yang dibutuhkan - bukan dicintai.
Ketika hubungan makin dekat, Hank sering mengakhiri percumbuan dengan bermasturbasi. Ia memang menikmati seks yang tidak lazim.
Namun, lama-kelamaan ia seperti menghipnotisku. Setiap kali ia menelepon dan bicara jorok, aku tak pernah menutupnya. Setiap kali ia muncul di pintu, aku membiarkannya masuk. Ketika ia menyetubuhiku tanpa memakai kondom, aku membiarkannya.
Aku terbiasa berpikir bahwa di balik setiap tindakan ceroboh ada kebebasan. Namun, ini bukan kebebasan, melainkan menjadi budak orang lain. Ini tentang ketidakberdayaan. Kecerobohanku sebenarnya lebih mirip ketidakpedulian.
Ketidakpedulian kesekian kali pula yang membawaku ke kantor dr. S. Matanya berbinar saat mendengar niatku untuk menjadi seperti bomb sex. "Buah dada adalah keahlianku. Percayalah, Hope, kamu tak akan kecewa," katanya.
Selama ini, ruang tunggu kliniknya telah menjadi tempat teraman bagiku untuk bersembunyi. Salahkah jika aku berharap agar hubungan kami bukan sekadar hubungan dokter - pasien? Di sisi lain aku sadar, sang Pangeran Tampan telah punya pilihan, entah mantan istrinya entah Margo, tunangannya.
Sebulan setelah dua gelembung silikon terbenam di dadaku, saat aku sudah pindah tempat tinggal, Hank datang ketika aku harus kembali ke apartemen lama untuk sebuah urusan. Ia memelototi buah dadaku dan, "Fantastis!" serunya.
Ia langsung membuka celananya dan memperlihatkan bekas goresan di atas batang penisnya. Itu hasil operasi yang katanya belum pernah diberitahukan kepada orang lain. "Kau pasti mengira punyaku sudah besar dari sananya, ’kan?"
Ia harap aku ditangani dokter yang baik. Kualitas dokter, katanya, membedakan hasil operasi. "Aku dapat dokter yang sangat bagus. Terbaik. Mungkin kau pernah dengar namanya, Bob S?"
MENJADI MODEL TELANJANG
- Ongkos operasi AS $ 6.000 akhirnya memeranjatkan ayahku. Aku harus meyakinkan, sembari merayu, agar ayah membayar. Namun atas desakan ibu, ayahku hanya memberi seribu.
Aku pindah ke sebuah apartemen kecil yang suram di King’s Road di West Hollywood, yang karpetnya bau kencing kucing. Di tengah kebangkrutanku, sebuah iklan di koran menarik perhatian: DIBUTUHKAN MODEL FIGUR, TIDAK PERLU PENGALAMAN, UANG CEPAT.
Model Figur. Kesannya artistik. Iklan itu dipasang di dekat iklan teman kencan, pesan seksual, dan saluran telepon seks.
Aku memang tidak ingin berpose telanjang bagi model sebuah lukisan. Namun, aku tak punya uang. Lagi pula aku telah terjebak di dalam penampilan ini, dan aku meyakini bahwa satu-satunya yang bisa kutawarkan hanyalah wajah dan tubuhku.
Di sebuah gedung perkantoran di Vallet, aku menemui Frank North, pria tua kurus yang tak lepas dari rokok. Aku tak tahu, Model Figur yang dimaksud adalah bintang film porno. Aku tidak mau, tapi North tak serta-merta merespons penolakanku. Mungkin ia sering menghadapi orang seperti aku. "Tempat yang menghasilkan banyak uang adalah film," kata North. "Tapi kalau kamu masih perlu waktu, sekarang kita foto dulu agar aku bisa menawarkannya kepada produser atau fotografer."
"Produser? Bukankah aku sudah bilang tak mau main film?" "Percayalah, kamu ini cantik. Kamu punya sesuatu untuk ditampilkan. Lebih dari modelku yang kini berpenghasilan besar. Terserah padamu untuk memutuskan apa yang engkau inginkan."
Ketidakpedulianku muncul. Entah kenapa, di tempat itu aku malah merasa nyaman. Aku setuju usul North. Dengan sedikit polesan lipstik pada bekas jahitan di puting, aku melakukan beberapa pose. Salah satu foto yang terpilih ditulisi oleh North pada tepinya, kemudian dimasukkan ke album yang isinya lusinan perempuan dalam pose seperti aku.
"Tenang saja, tak ada orang di Hancock Park yang akan melihat ini," kata North sambil menyerahkan sisa fotoku. Ia juga memberikan daftar telepon fotografer, menyarankan aku untuk mengontak salah seorang, dan membuat foto uji coba. "Atau kubuatkan janji karena engkau ingin mencoba jadi model?"
Pada hari yang ditentukan aku menemui Roger, fotografer tua berambut tipis yang menyambutku tanpa ekspresi.
"Gadisnya North?" ia bertanya. Aku mengikuti dia masuk ke studio berdinding abu-abu pucat. "Silakan buka bajumu. Kau berdiri di sini saja."
Aku gemetar. Sebenarnya, aku tadi sempat ragu, memenuhi janji ketemu George atau tidak. Namun, ada dorongan yang telanjur mengeluarkanku dari apartemen. Lagi pula North bilang soal AS $ 1.000 sampai AS $ 2.500 sehari untuk foto telanjang.
Beberapa kilatan berlangsung, pandanganku sampai ke tali gantungan, ban pengikat, dan sesuatu seperti pijakan pelana kuda digantungkan di sebuah kursi. Apa itu?
"North tidak memberi tahu? Inilah yang kulakukan. Membuat foto penyiksaan. Aku bisa tunjukkan beberapa contoh supaya kau bisa membayangkannya." Lampu kembali berkilat-kilat, aku tidak ingat apakah memegangi pelana, tali, kursi, atau ban pengikat. Ruangan berputar, kepalaku pening. "Stop, stop. Maafkan aku, aku tak bisa melakukan ini."
Aku menduga George akan marah. Ternyata, "Tidak semua orang cocok dengan ini," katanya seraya menyerahkan foto-foto yang tadi berserakan. Suaranya terdengar bijak.
Aku melihat diriku di dalam foto-foto itu dan terkejut melihat betapa mudanya aku dan betapa bersemangatnya. Kalau tidak telanjang begitu, poseku bisa untuk foto di buku tahunan. Aku memakai wig, yang terlihat seperti rambutku sendiri di masa kuliah dulu. Terurai ke atas payudaraku yang terbuka, dengan puting mencuat seperti tangkai bunga mawar. Aku tersenyum lebar dan percaya diri bahwa aku cantik. Bukan seorang yang merana yang kulihat setiap hari.
MERAIH HIDUP KEMBALI
- Dengan sedikit pemaksaan, ibu membuatkan aku janji temu dengan Ellen Ring, seorang terapis.
Dari beberapa pertemuan Ellen menyimpulkan: aku selalu melihat segala hal dari sisi emosional. Aku harus belajar menggunakan otakku, untuk lebih berpikir daripada bereaksi membabi buta.
Aku diterima di perusahaan kecil animasi Jepang yang terletak di Glendale, sebuah permukiman tenang di Los Angeles. Posisiku yang semula operator, dalam tiga bulan naik menjadi kepala kantor. Seandainya sebelumnya tidak menjalani terapi Ellen, niscaya aku akan mengalami kesulitan untuk menjalani pekerjaan yang sesungguhnya amat normal ini.
Aku bertemu dengan seorang pimpinan, Ray Donahue. Ia 11 tahun lebih tua dariku, berasal dari keluarga imigran Irlandia-Italia yang rukun. Ia anak polisi yang besar di New Jersey, pernah empat tahun tinggal di Sydney. Ia tipe pria mandiri yang mendedikasikan hidupnya demi karier. Ia belum pernah menikah, sampai kami menemukan kecocokan dan ia menyampaikan niat itu. Bagaimanapun aku masih takut akan seuatu yang "normal". Aku menyimpulkan bahwa kesenangan yang aku dapatkan ini harus dibayar dengan penderitaan yang sama besarnya.
Lima bulan setelah ulang tahunku ke-25, aku hamil. Sejujurnya, meski dipenuhi ketakutan akan gagal menjadi ibu atau istri, aku amat senang. Aku amat ingin menjadi seorang ibu. Kami menikah di Las Vegas saat kandunganku enam minggu. Orangtuaku yang pindah ke Pennsylvania juga datang. Hubunganku dengan ibu membaik justru pada saat kami terpisah jarak yang jauh.
Nicholas lahir di suatu malam yang panas di bulan Agustus. Aku tidak mau bekerja lagi, karena menjadi ibu adalah sebuah dunia baru yang sangat aku nikmati. Namun, rasa bosan tiba saat Ray pindah ke sebuah studio televisi besar di Westwood. Waktu kerjanya lebih panjang sehingga aku sering ditinggalkan 15 jam hanya berdua dengan Nicholas. Aku malu mengatakan kepada Ray bahwa aku telah membuat diriku terisolasi. Aku mulai melihat-lihat cermin kembali, 40 - 50 kali dalam sehari. Andai hidung itu runcing lagi, andai tulang pipi tak menonjol. Andai payudara ini seperti dulu, sebelum diisi silikon tapi justru pernah dikatakan "sempurna" oleh seorang teman kuliah.
Tanpa sepengetahuan Ray dan Ellen aku menemui dr. R. Namun, sebelum aku sempat menyampaikan maksud, ia menawariku prosedur baru: pengambilan lemak pantat dan dimasukkan ke dalam labia.
"Bedah ini akan menambah sensitivitas seksual dan meningkatkan kemungkinan mencapai orgasme. Aku tengah mengurus patennya. Kelak semua wanita di kota ini menginginkannya," katanya serius.
Aku pergi. Atas rujukan dokter kandunganku, aku menemui dr. Arthur Scott. Aku ingin mengangkat kembali silikon ini. Ia seorang pria sopan, tinggi, dengan rambut dipenuhi uban.
"Kalau boleh tahu, kenapa Anda memasukkan silikon demikian besar," dr. Scott bertanya.
"Aku tidak menentukan ukurannya. Emm ... seharusnya ya, tapi aku tidak melakukannya. Tapi dok, apakah silikon yang demikian besar ini yang menyebabkan banyak benjolan?"
"Ya dan tidak," jawabnya. "Semua operasi payudara akan segera mengeras, perlu diganti setelah beberapa waktu. Silikon bisa diganti setelah 10 atau 15 tahun, tapi cepat atau lambat pasien harus menggantinya. Dokter yang bertanggung jawab akan memberitahukan hal itu kepada pasiennya."
Apalagi dr. Scott menemukan, ternyata silikon ditanam di bawah kulit, bukan di bawah otot. Ini memang cara termudah, meski bukan yang terbaik.
Operasi, kata dr. Scott, akan berlangsung antara 4 - 6 jam karena ia harus hati-hati memotong jaringan. Ia memberi kemungkinan untuk sekalian mengencangkan kembali payudara atau mengganti dengan silikon yang lebih kecil. Aku menolaknya. Ini bukan soal mengencangkan atau mengganti. Ini soal meraih kembali kehidupanku yang dulu. *